Inilah 7 Hal yang Dipelajari dari Ilmu Psikologi

Seringkali kami yang menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi, dikira sebagai seorang peramal, cenayang bahkan ornag yang pandai menghilangkan ingatan manusia. Ya, karena pada dasarnya kami memang belajar memahami bagaimana jiwa seorang manusia. Mempelajari kenapa dan apa yang akan terjadi berdasarkan perilaku dan sifat manusia saat ini. Tapi bukan pula berarti kamu orang yang pandai meramal dan bisa membaca pikiran manusia.

Jangan salah paham dulu ya, kamu yang ingin konseling dengan kami tentu saja bisa. Tapi jika harapanmu kepada kami adalah mampu menghilangkan galau dan menghapus gundah hati, coba pikirkan lagi.

1. Kami belajar memahami diri sendiri lebih dulu, sebab memahami orang lain itu seni yang terus dilatih.

Di dalam semua ilmu Psikologi, sudah jelas diajarkan bahwa sebelum kita memahami bagaimana orang lain. Mengerti kondisi dan memprediksi masa depan seseorang dari apa yang terjadi pada hidupnya saat ini.

Kami belajar untuk memahami diri kami sendiri. Bahkan tidak jarang, kami punya PR besar untuk menuliskan apa yang lebih dan kurang dari dalam diri kami. Tujuannya apa? Jelas untuk lebih tahu bagaimana diri kami sendiri. Sampai pada akhirnya kami siap untuk belajar memahami sesama kami.

2. Kami tidak bisa menyamakan semua manusia, sebab kami yakin semua orang itu unik.

Sejak kami tahu bagaimana diri kami, kami juga belajar untuk memahami bagaimana manusia lain hidup dengan segala yang mereka miliki. Kami sadar bahwa setiap manusia diciptakan dengan berjuta keunikan yang jelas berbeda satu dengan lainnya.

Keunikan ini pula yang membuat kami tidak bisa dengan mudah menyamaratakan perlakuan kami kepada orang-orang di sekitar kami. Kami juga harus mampu menjaga dan memahami bagaimana orang yang baru kami temui. Kami belajar untuk menghargai dan tidak memaksakan keinginan kami ada pada diri mereka.

3. Menjadi manusia yang tidak egois, karena kami akan lebih banyak mendengar.

Saat kami tahu setiap manusia di sekitar kami berbeda dan memiliki keunikannya sendiri, kami juga sadar bahwa memaksa mereka mendengarkan kami bukanlah hal yang baik. Beberapa orang mengatakan bahwa anak Psikologi akan lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Mungkin saja, tapi saya rasa memang benar. Sebab selain mata kuliah Konseling yang mengajarkan kami untuk lebih banyak mendengar klien, kami juga harus bisa memahami dan memberikan ruang yang luas bagi siapapun untuk bercerita kepada kami. Tanpa hambatan, karena kami pun ingin membantu meringankan beban mereka melalui telingan yang terbuka untuk mendengar dan pundak yang kokoh untuk disandar.

4. Saat kami punya masalah, kami akan berusaha menjadi seseorang dari berbagai sudut pandang.

Kami bukanlah manusia yang sempurna dan tidak memiliki masalah di dalam hidup kami. Saat kami dituntut untuk lebih peka dalaam memahami masalah orang lain, kadang kami pun ingin lebih dipahami sebagai manusia biasa. Masalah tentu saja ada. Tapi saat kami memiliki masalah yang cukup pelik, kami tidak mudah untuk memutuskan untuk berbuat sesuatu yang merugikan kami.

Ada banyak hal yang pastinya kami pikirkan. Kami mempertimbangkannya dan sampai akhirnya kami lakukan. Bahkan kami juga terus berusaha menjadi orang lain jika kami sedang memiliki masalah. Melihat dari sudut pandang lain saat kami diterpa masalah. Tentu saja agar solusi yang kami ciptakan tidak hanya untuk kami seorang, tapi kebaikan untuk sesama.

5. Setiap situasi akan membawa pengaruh yang berbeda bagi setiap manusia, kami belajar memahami itu.

Kami memang dituntut untuk lebih peka terhadap manusia yang ada di sekitar kami. Siapa yang sedang ada masalah, siapa yang sedang tidak enak hati dan masih banyak lagi. Kami ada untuk membantu menguatkan dan memberi dukungan. Tapi kami juga semakin belajar, bahwa tidak semua situasi bisa menghasilkan sesuatu yang kami harapkan.

Artinya, kami harus tetap berhati-hati saat ingin membantu menyelesaikan masalah orang lain. Apakah situasi itu sudah baik, sudah pas dan sudah cocok dengan cara yang akan kami berikan? Jika tidak, bukankah itu juga akan berpengaruh pada kehidupan orang lain nantinya?

Bukan berarti kami tidak bisa marah, hanya saja kami lebih tahu bagaimana memahami emosi kami.

Kami masih manusia biasa yang memiliki emosi di dalam diri kami. Bukan berarti kami tidak bisa marah, sebab kami juga punya hati dan batas untuk bersabar terhadap yang menyakiti kami. Tapi apa yang kami lakukan? Tentu tidak meronta, membanting pintu atau menghujat siapapun yang kami temui.

Kami lebih memahami bagaimana emosi kami berkembang. Kami belajar untuk memahami alasan kenapa kami bisa menjadi sangat marah. Apa yang kami lakukan saat kami tidak enak hati. Dan tentu saja mencoba membayangkan hal yang akan terjadi saat kami melampiaskan amarah kami.

Kami tetap tahu, bagaimanapun amarah jika diluapkan tanpa melihat orang lain pun akan merugikan.

Kami adalah manusia yang penuh kehati-hatian dalam memberikan saran saat kamu konseling.

Ya, karena kami diberikan kemampuan dan kesempatan untuk menjadi pendengar bagi klien, kami pun memiliki kesempatan untuk memberikan nasehat dari banyak sudut pandang secara objektif. Tentu saja itu tidak mudah. Kami bukan hanya harus memberikan saran untuk kesembuhan klien saja, tapi juga memberikan saran agar ia tidak kembali “sakit” lagi dan lingkungannya juga kembali baik-baik saja. Sebab kami pun percaya, setiap dari seorang manusia yang mengalami gangguan psikologi sekalipun, mereka didukung oleh keluarga, teman dan lingkungan sekitar.

Kami tidak bisa asal memberikan intervensi dan nasehat yang menurut kami baik. Kami tetap berpegang teguh pada kode etik kami sebagai seorang Psikolog maupun Ilmuwan Psikologi.

Sumber : idntimes.com

Leave a comment