Tertarik Dengan Sesama Perempuan, Normal kah?

Tanya :

Aku bermasalah dengan diriku sendiri, aku selalu merasa ketakutan di tinggal oleh orang yang ku sayangi, orang yang dekat denganku, aku merasa siapapun yang dekat denganku pasti akan meninggalkanku, aku sangat ketakutan, hingga rasanya seperti di ambang kematian. Ketika perasaan itu muncul, diriku selalu kacau, tak bisa fokus, aku akan selalu memikirkan orang itu,bahkan beberapa kali aku mencoba bunuh diri karena merasa ditinggalkan.


Dan sekarang, ada seseorang yang sedang menjauhiku, aku tau sebabnya. Itu karena kami yang terlibat dalam hubungan yang rumit, seperti lesbi mungkin. Dia mengaku mencintaiku, dan aku pun menyayanginya, sangat-sangat menyayanginya, tetapi aku tak pernah menganggapnya seperti seorang lelaki, hanya ia yang mengaku mencintaiku. Kini, ia sedang menjauhiku karena ingin sembuh dari keabnormalannya yang mencintaiku, aku senang mendengarnya,dan aku pun ingin membantunya, hanya saja, disisi lain aku merasa, akulah yang menyebabkannya sulit sembuh, itu karena aku yang tak bisa menjauhinya, aku tak bisa jika ia menjauhiku seperti ini, aku tak bisa melihatnya yang menganggapku tak ada.

Aku sudah berusaha menetralisir ketakutanku dengan berpikir positif, namun semuanya sama saja, aku terus memikirkannya, aku frustasi karena ia menjauhiku, tetapi disisi lain aku pun ingin membantunya sembuh dari hal ini, dan ku pikir memang hanya dengan menjauhikulah jalan satu-satunya ia bisa sembuh.


Jujur.. Aku hampir tak kuat dengan ini semua, aku harus melihatnya menjauhiku hampir di setiap waktu, karena kami berada di kelas dan boarding school yang sama. Dan terkadang, aku berpikir, apa benar aku hanya menyayanginya? Jangan-jangan akupun memiliki perasaan terlarang itu juga, karena aku selalu memikirkannya, dan jujur aku senang saat ia menyentuhku,memelukku,walaupun terkadang aku menolaknya, aku tau ini tidak benar. Lagi pula seperti yang ku katakan, aku tak menganggapnya seperti seorang lelaki.


Lalu aku harus bagaimana? Aku bingung.. Ingin membantunya tapi malah memberatkannya karena tak dapat melepasnya. Ku mohon bantu aku.

Airi, di Kudus

 

Jawab :

Assalamu’alaikum Sdri Airi, bagaimana kabar anda hari ini? Semoga baik dan senantiasa menjadi lebih baik lagi dikeseharian anda.

Baik Sdri Airi, saya sudah membaca email curahan hati dari Sdri Airi. Saya sangat memahami kegundahan hati yang dialami Sdri Airi.

Sdri Airi, seperti halnya kita ketahui, makhluk ciptaan Alloh yang disebut sebagai manusia ada dua jenis, laki – laki, dan perempuan. Seluruh manusia di muka bumi ini dilahirkan dengan berpasang – pasangan. Manusia memiliki fitrah, adalah sebagai makhluk heteroseksual. Manusia berpasangan dengan lawan jenisnya, bukan sesama jenis (homoseksual, lesbi).

Homoseksual, lesbian termasuk dalam kelainan orientasi seksual, bukan berasal dari genetic, jadi bisa di cegah dan di obati. Meskipun pola asuh dan lingkungan mendorong heteroseksual, namun perubahan yang terus berjalan sampai dewasa bisa mengubah orientasi seksual seseorang. Apalagi mereka yang tidak dibekali pembentukan diri, karakter, pendidikan agama, dan moralitas dari orangtuanya

Mengapa Sdri Airi memiliki perasaan spesial dengan sahabat dekat Sdri Airi?

Hal tersebut dapat terjadi karena proses pembiasaan. Pada masa remaja sangat dibutuhkan orang yang dapat mendukung kita saat suka maupun duka, mendampingi kita, saat itu juga kita butuh pujian, kasih sayang yang besar dari orang terdekat. Idealnya orang tua memberikan hal tersebut pada anak mereka sejak kecil hingga remaja. Orang tua hendaknya mampu menjelaskan peran anak sebagai individu di masyarakat baik secara norma agama, maupun sosial, kebiasaan dimasyarakat, sehingga orang tua mengetahui perkembangan anak baik intelektual, emosi, perilaku maupun perkembangan seksualnya. Namun mungkin masing masing orang tua memberikan dengan caranya masing masing yang tentunya berbeda satu sama lain. Kebutuhan anak satu dengan anak yang lain pun juga berbeda.

Terkait dengan kasus Sdri Airi, proses orientasi seksual dipengaruhi banyak faktor. Lingkungan internal dan eksternal lebih dominan, termasuk pola asuh, trauma, pencarian figur ayah atau ibu saat kecil hingga remaja, dan perhatian orangtua pada fase pertumbuhan dari anak hingga remaja. Kemampuan dan perhatian orangtua dalam memberikan arahan dan bimbingan fungsional perbedaan jenis kelamin juga menjadi faktor lain yang memengaruhi. Saat remaja adalah fase laten. Anak sudah mengenal seks tetapi tidak untuk menyalurkan secara biologis. Jika masa laten ini tidak didampingi orangtua dengan baik, orientasi anak bisa berubah. Anak bingung jika tidak diarahkan. Apalagi masa usia 15 tahun misalnya, sudah muncul ketertarikan terhadap lawan jenis.

Pada saat ini Sdri Airi sudah remaja. Pada fase remaja, umumnya lebih banyak deket dengan lingkungan teman sebaya. Disisi lain Sdri Airi masih membutuhkan dukungan, kasih sayang, pujian, saran, butuh kenyamanan, ketenagan, dan hal tersebut Sdri Airi dapatkan dari sahabat Sdri Airi. Hal tersebut sudah menjadi rutinitas sehari – hari dari Sdri Airi, yang pada akhirnya menjadi kebiasaan. Hal tersebut yang mengakibatkan munculnya rasa hampa atau kosong jika tidak bertemu dengan sahabat Sdri Airi. Mengapa? Karena Sdri Airi sudah mengalami addict atau kecanduan. Kecanduan rasa nyaman, aman, tenang, senang, rasa diperhatikan, dan selain itu Sdri Airi juga sudah tergantung dengan sahabat Sdri Airi tadi.

Kita bisa membuat analogi dengan seseorang yang sudah kecanduan kopi atau rokok. Jika sehari orang tersebut tidak mengkonsumsi rokok atau minum kopi akan muncul perasaan tidak nyaman dan harus disegerakan untuk memperoleh kopi atau rokok tersebut.

Apakah yang dialami Sdri Airi bisa diatasi?

Bisa, dan sangat mungkin sekali. Mulai lah kurangi pertemuan dengan sahabat anada tersebut. Jalin lah persahabatan dengan sewajarnya sesuai dengan batasan. Ubahlah cara berfikir Sdri Airi, bahwa selama ini yang Sdri Airi rasakan tidak lebih dari rasa sayang dengan seorang sahabat. Dan Sdri Airi merasa sedih hanya karena Sdri Airi, sudah ketergantungan dengan sahabat sehingga merasa sendiri, yang pada akhirnya Sdri Airi berfikir tidak ada yang memperdulikan Sdri Airi lagi, tidak ada yang membantu Sdri Airi lagi, tidak ada yang memberikan semangat pada Sdri Airi lagi. Buang jauh jauh pikiran tersebut. Selanjutnya perbaiki adaptasi Sdri Airi, carilah banyak teman, lebih terbuka pada orang lain. Belajarlah bersosialisasi. Diluar sana masih banyak teman teman baik laki – laki maupun perempuan yang juga bersedia membantu Sdri Airi. Mungkin Sdri Airi dapat mencoba untuk lebih open mind, lebih menimbang – nimbang terkait apa yang dipikirkan dan akan dilakuakan. Selanjutnya segeralah meluruskan jalan Sdri Airi. Masih belum terlambat. Dimana ada kemauan disitu pasti akan ada jalan, jika kita ingin berubah, segala sesuatu pasti akan menjadi lebih baik, dengan usaha dan doa kita.

Jika masih ada yang kurang jelas mungkin Sdri Airi bisa bertemu saya di Klinik Psikologi, KPT Insight Fakultas Psikologi UMK, saat jam kerja.
Terimakasih Sdri Airi, Sukses selalu ya….

Konsultasi ini dijawab oleh :

Rr. Dwi Astuti, S.Psi, MPsi

 

Leave a comment