Selalu Merasa Disalahkan

Tanya :
Jadi saya itu adalah orang yg selalu salah. Saya bertindak salah, wajar kalo saya dimarahi. Tapi saya bertindak benar, pasti ayah saya mencari kesalahan saya. Itu yang pertama. Yang kedua, faktor lingkungan. Saya dibenci oleh teman-teman saya karena saya tidak memberi pendapat. Kenapa bisa begitu?? Karena saya jika saya bercerita atau curhat kepada ayah saya. Saya pasti dan pasti selalu disalahkan. Yang ketiga. Saya selalu dipaksa mengikuti kemauan ayah saya, misalnya masuk jurusan prodi (program studi). Saya ingin masuk jurusan A tapi ayah saya ingin saya masuk jurusan B, jika saya tidak mengikuti kemauannya saya diancam seperti “jika kamu masuk jurusan B, nanti mudah mencari pekerjaan, enak bla bla” akhirnya saya mau tidak mau mengikuti kemuannya. Sebenarnya saya capek hidup.
Mega – Kudus

 

Jawab :

Semoga kebaikan dan berkah Alloh senantiasa ada dalam kehidupan kita semua, Aamiin. Saya sangat memahami apa yang dirasakan, betapa penatnya hati merasa selalu dipersalahkan. Seolah oleh menjadi orang yang tidak pernah melakukan kebaikan, atau hal yang benar dan pantas dipandang. Seolah olah tidak bisa berbuat apa – apa, tidak bisa dibanggakan. Andapun menjadi memiliki pemikiran negative dan berfikir, merasa teman teman anada tidak menyukai atau bahkan berfikir teman teman anada membenci anda. Padahal belum tentu. Bisa jadi ketika sedang berdiskusi meraka tidak menanyakan pendapat anda karena teman teman sudah memahamki anda jika anda adalah orang yang pasif, cenderung diam, cenderung menjadi penurut dan mengikuti apapun yang menjadi keputusan saat diskusi. Karena mungkin berawal ketika diminta pendapat anda diam, walaupun sebenarnya anda memiliki pendapat namun tidak berani menyampaikan karena faktor tertentu. Misalnya takut dipersalahan, takut di tolak pendapatnya, jadi anda lebih memilih diam. Sehingga saat ada forum diskusi teman teman sudah hafal karakter anda.

 

Hal ini mungkin karena kondisi keseharian anda, pengalaman yang anda peroleh dari orang terdekat. Respon dari ayah anada yang sering menyalahkan, sehingga anda merasa selalu salah dan tidak benar di mata sang ayah. Membuat anda menjadi takut berpendapat, takut salah, takut ayah marah. Hal tersebut membuat anda tumbuh menjadi orang yang memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, mudah stress, ragu ragu dalam mengambil keputusan, takut berpendapat, takut salah, takut ditolak, sehingga untuk mengatasi hal tersebut, anda cenderung pasif, diam dan penurut. Respon ayah anda yang cenderung menyalahkan anda saat anda menyampaikan sesuatu hal atau masalah, membuat anda memilih diam, atau memendam masalah. Hal tersebut dapat membuat anda mengalami tekanan. Dan mudah sekali untuk mengalami stress. Kondisi stress berkepanjangan yang tidak segera diatasi dapat memunculkan berbagai gangguan baik fisik (mudah sakit), psikosomatik, maupun kondisi psikis yang tidak stabil.


Ayah anda memperlakukan anda seperti itu mungkin karena sudah menjadi karakter ayah anda yang keras. Ayah anda ingin anaknya lebih kuat secara mental. Bisa juga mungkin ayah anda dulu di besarkan oleh orang tuanya dengan pola asuh seperti itu, sehingga ayah anda menirunya. Atau mungkin ayah anda tipe otoriter yang segala sesuatu harus sesuai dengan aturan nya, yang tentuanya harapannya anaknya jauh lebih baik dari pada dirinya.

 

Namun kita tidak bisa mempersalahkan ayah anda. Ayah anda melakukan hal tersebut mungkin karena beliau sendiri kurang memahami dampak yang ditimbulkan ketika melakukan hal tersebut. Yang beliau tau adalah ingin anaknya jauh lebih baik.


Hal yang dapat anda lakukan pertama belajar menerima kondisi yan g saat ini dialami terutama terkait karakter ayah. Karena karakter ayah sudah sangat sulit atau bahkan tidak bisa dirubah lagi. Jadi yang harus berubah adalah anda sendiri. Dalam artian merubah mindset atau cara berfikir agar menjadi lebih positif, merubah emosi, dan pada akhirnya merubah perilaku anda. Ketika cemas belajarlah relaksasi untuk ketenangan anada. Mulailah untuk bercerita dengan sahabat, apabila belum nyaman, coba tuliskan dalam buku harian, hal tersebut juga dapat sebagai katarsis atau pelepasan emosi negatif. Latih diri anda untuk berani mengemukakan pendapat disetiap kesempatan, mulailah dengan menolak tawaran ketika tidak sesuai dengan pilihan anda, memutuskan suatu hal secara mandiri, hingga perlahan mengemukakan pendapat di forum diskusi. Yakinkan lah diri anda bahwa orang itu berbeda beda satu sama lain. Sehingga saat anada mengemukakan pendapat sudah pasti berbeda responnya dengan respon yang anda dapatkan di rumah. Karena anda berbicara dengan orang yang berbeda. Jika anda terus berfikir negatif dengan lingkungan, akan berdampak tidak baik. Mengakibatkan kerja anda tidak optimal.

 

Pemikiran negatif akan memunculkan emosi negatif dan menimbulkan perilaku negatif. Sebaliknya pemikiran positif akan memunculkan emosi positif sehingga muncul perilaku positif.

 

Semoga penjelasan singkat dari saya dapat sedikit membantu, namun apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut bisa menghubungi biro kami di KPT Insight Fakultas Psikologi UMK. Terimakasih.
Wassalamu’alaikum

Konsultasi Psikologi ini dijawab oleh

Rr. Dwi Astuti, S.Psi, M.Psi

Tags

Leave a comment