Artikel

Anak Berani Menentang Orangtua

Anak Berani Menentang Orangtua

 

Tanya:

Ibu, saya sedang bingung menghadapi anak saya. Dia perempuan, usia 7 tahun. Setiap kali saya ingatkan, dia malah mengira saya tidak sayang padanya, sehingga ganti memarahi saya karena selalu menyalahkan dia. Dalam posisinya ketika salah sekalipun, dia selalu merasa disalah-salahkan ketika dimarahi. Bagaimana ya bu cara memahamkan dia terhadap kesalahan yang diperbuatnya tanpa merasa disalah-salahkan?
Ibu Ani di Pati

 

Jawab:

Ibu Ani yang baik, saya bisa memahami yang sekarang ibu rasakan. Sebagai orangtua kadang kita bingung menghadapi anak-anak. Kita memang tidak bisa sempurna, tentu kita pernah melakukan kesalahan dalam mendidik anak-anak kita untuk menjadi pribadi yang baik, namun untuk menjadi orangtua yang baik, kita semua bisa walaupun dengan belajar dari kesalahan.

 

Anak-anak memang sangat mengharapkan disayang dan dihar-gai orangtuanya. Sebaliknya, akan sangat melukai perasaaannya jika dirasa orangtua tidak menyayangi dirinya dengan merna-.rah-marahi. Maka tidak jarang jika kita temui, anak-anak yang meminta perhatian orangtua dengan menangis ketika dimarahi. Mungkin sebagai orangtua, kita akan semakin jengkel melihat anak menangis ketika dimarahi, padahal dari sisi si anak, justru menangis adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk me-narik simpati dari kita sebagai orangtua.

Selain pemahaman kita terhadap keinginan anak terhadap kita sebagai orangtua, perlu kita pahami juga bahwa akan lebih bijaksana jika kita sebagai orangtua membiasakan diri untuk lebih menekank-an memberi pemahaman daripada sekadar memarahi anak ketika dia salah. Misalnya dengan mengajak dia berpikir kenapa dia tidak boleh melakukan sesuatu hal, apakah karena berbahaya bagi dirinya atau orang lain, seberapa berbahaya jika hal itu dilakukan, dsb.

 

Anak-anak walaupun belum sempurna perkembangan otak/kognisinya, namun sudah dapat memahami penjelasan sederhana yang kita berikan pada mereka. Membenarkan dengan memberi penjelasan daripada sekadar memarahi, akan lebih baik bagi perkembangan kognisi dan afeksi anak. Anak akan semakin hormat dan percaya pada orangtua karena apa yang dikatakan orangtuanya masuk akal dan bermanfaat bagi dirinya, anak juga lebih merasa disayang. Sebaliknya, semakin sering anak dimarahi, anak akan semakin mengembangkan jiwa pemberontak, karena dia berpikir orangtua tidak mau menerima alasan darinya hanya dengan menangis, sehingga anak akan cenderung menambah intensitas kemarahannya agar kemarahan orangtua reda.

 

Dari sisi perkembangan emosi/afeksi, jelas hal ini kurang baik, karena secara tidak langsung kita sebagai orangtua memberi contoh yang kurang baik pada anak dengan melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Demikian ibu Ani, semoga bermanfaat.

 

Dijawab oleh:

Fajar Kawuryan