Pelanggaran HAM Berat Bagi Korban

UMK - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang diwakili salah satu komisionernya, Dr Otto Nur Abdullah pada hari Kamis (23/06 - 2016) di Gd. Rektorat Lantai 4 Ruang Seminar pada kuliah umum yang diselenggarakan kajian Psikologi Sosial Fakultas Psikologi UniversitasMuria Kudus memaparkan dengan jelas arti dan makna dari pelanggaran HAM berat bagi korban.

“Pelanggaran hak asasi manusia berat dibagi menjadi dua yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida. Kejahatan terhadap kemanusiaan misalnya pembunuhan, pemusnahan, perkosaan atau pelacuran secara paksa, pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa,” Jelas Otto pada peserta kuliah umum yang diikuti sekitar 90-an mahasiswa Universitas Muria Kudus dan para aktivis HAM di Kudus.

Ditambahkan oleh Ibu Rima Purnama, Kabag.Duk.Pelayanan Pengaduan/Penyelidikan Komnas HAM yang memberikan bekal tata cara pengaduan ke Komnas HAM yaitu pengaduan harus disampaikan dalam bentuk tertulis yang memuat dan dilengkapi nama lengkap pengadu, alamat rumah, alamat surat jika berbeda dengan alamat rumah, nomer telepon rumah atau pengadu dan rincian pengaduan yang meliputi apa yang terjadi, dimana, kapan dan siapa yang terlibat (korban, saksi dan pihak yang diadukan), kemudian foto kopi berbagai dokumen pendukung, foto kopi identitas pengadu yang masih berlaku, bukti-bukti lain yang menguatkan, informasi upaya hukum atau non hukum yang telah pengadu lakukan dan membubuhkan tanda tangan dan nama jelas pengadu atau yang diberi kuasa.Pengaduan bisa datang langsung ke Komnas HAM atau dikirim dengan kurir atau jasa pos. Berkas yang diterima Komnas HAM merupakan berkas negara sehingga tidak bisa diminta kembali dan pengadu wajib memberitahukan perkembangan pengaduan yang diadukan dalam bentuk tertulis.

Sebelum acara ditutup, di informasikan oleh Dr Otto bahwa saking banyaknya berkas aduan yang diterima oleh Komnas HAM dan dengan keterbatasan sumber daya manusia yang ada maka pengaduan juga dapat disampaikan pada perwakilan terdekat pada korban yaitu di Komnas HAM di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Maluku dan perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua.

Amnan, salah seorang mahasiswa memberikan komentarnya,”Beruntung kami mendapatkan pengalaman yang langsung dari pakarnya yaitu orang lapangan dari Komnas HAM sehingga bisa belajar langsung, tidak hanya membaca teori psikologi sosial dari buku saja ” (Islakhul Muttaqin-Portal Web UMK).