Apa Sih Gangguan Depersonalisasi itu?

Tanya :

Selamat malam, nama saya nidia, umur 21 tahun, saya ingin konsultasi mengenai permasalahan yang saya hadapi yang sudah bertahun tahun saya alami, dari sejak saya kelas 1 sma, sampai saya mengalami gangguan depersonalisasi, dimana gejala yang paling saya rasakan adalah saya seperti tidak bisa mengatur bicara atau kata atau kalimat saya, perasaan saya datar, saya seperti tidak punya kepribadian apapun, saya miskin ide, prestasi saya menurun, susah konsentrasi, dan semenjak saya terkena depersonalisasi ini saya banyak menghindar dari sahabat dan teman saya, setiap ada teman yang chat saya saya tidakpernah atau jarang membalasnya. Bukannya saya sombong, karena ketika saya berbicara dengan sesorang saya merasa tidak terhubung. Saya seperti tidak ingat padahal saya ingat chemistry apa yg dulu saya dapatkan yg menyebabkan saya akrab dengan dia, Dan saya juga menjauh dari teman-teman saya karena saya tidak bisa mengontrol bicara saya. Saya tidak punya ide dalam berbicara. Saya takut karena saya tidak bisa mengontrol bicara dan ide dalan kata kata pembicaaaran saya menjadi membosankan dan menyakiti perasaanya dan dia akhirnya benar benar meninggalkan saya, makanya setiap ada yg chat saya saya tidak membalasnya. Saya menjauh dari banyak orang, dan.karena menjauh itu, org orang mengira saya sombong dan sekarang mereka pergi meninggalkan saya, saya sekarang kesepian. Saat ini saya memang masih punya teman, tapi saya tak merasa akrab denga mereka karena depersonalisasi ini. Saya rindu teman dan sahabat saya dulu, tapi sepertinya semua sudah terlambat, setiap ada teman yg nanya kenapa saya balas chat lama-lama, saya selalu cari cari alasan, dan mereka pun menjadi betul-betul meninggalkan saya. Mereka sudah lupa sama saya, saya sekarang benar benar kesepian, hidup saya yg seharusnya lebih maju dari yang dulu, malah lebih mundur dari yang dulu. Saya tidak tahu harus bagaimana untuk berubah, tapi saya harus menyembuhkan depersonalisasi saya dulu baru saya siap berhubungan sosial dengan orang-orang.

Nidia

 

Jawab :

Assalamu’alaikum mbk Nidia yang baik, saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari mbak Nindia.
Apa sih depersonalisasi itu? Dalam ilmu Psikologi, Depersonalisasi mencangkup kehilangan atau perubahan temporer dalam perasaan yang biasa mengenai realitas diri sendiri. Dalam suatu tahap depersonalisasi, orang merasa terpisah dari dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Mereka mungkin merasa seperti sedang bermimpi atau bertingkah laku seperti robot (Guralnik, Schmeidler, & Simeon, 2000; Maldonado, Butler, & Speigel, 1998). Jadi perasaan ini kemunculannya tentunya didahului oleh datangnya peristiwa yang tidak menyenangkan yang membuat stress atau trauma orang tersebut.

Sedangkan Derealization merupakan suatu perasaan tidak nyata mengenai dunia luar yang mencakup perubahan yang aneh dalam persepsi mengenai lingkungan sekitar, atau dalam perasaan mengenai periode waktu juga dapat muncul. Orang dan objek dapat berubah ukuran atau bentuk dan dapat pula mengeluarkan suara yang berbeda. Semua perasaan ini dapat diasosiasikan dengan kecemasan, termasuk pusing dan ketakutan akan menjadi gila, atau dengan depresi (Guralnik, Schmeidler, & Simeon, 2000; Maldonado, Butler, & Speigel, 1998). 

Hal utama, penting dari gangguan depersonalisasi atau derealisasi adalah episode menetap atau berulang dari depersonalisasi. Episode dari depersonalisasi dikaraktersitikan dari perasaan yang tidak nyata atau tidak familiar dari keseluruhan diri seseorang atau dari aspek-aspek diri. Individu tersebut dapat merasa terpisah  dari dirinya (“saya bukan siapa-siapa”, “saya tidak mempunyai diri saya”).

Orang yang mengalami depersonalisasi pada umumnya mengalami gangguan di mana adanya perubahan dalam persepsi atau pengalaman individu mengenai dirinya. Individu merasa “tidak riil” dan merasa asing terhadap diri dan sekelilingnya, cukup mengganggu fungsi dirinya. Memori tidak berubah, tapi individu kehilangan sense of self. Gangguan ini menyebabkan stress dan menimbulkan hambatan dalam berbagai fungsi kehidupan. Biasanya terjadi setelah mengalami stress berat, seperti kecelakaan atau situasi yang berbahaya. Biasanya berawal pada masa remaja dan perjalanannya bersifat kronis (dalam waktu yang lama). Sedangkan dalan Kriteria Diagnostik Gangguan Depersonalisasi Berdasarkan DSM-IV :

  1. Pengalaman terus menerus atau berulang dari perasaan terpisah dari tubuh atau proses mental seseorang dan seolah-olah diri adalah seorang pengamat luar (misalnya, merasa seperti dalam mimpi).
  2. Selama pengalaman depersonalisasi, uji realitas tetap utuh.
  3. Depersonalisasi disebabkan oleh distress klinis yang signifikan atau gangguan di bidang sosial, bidang pekerjaan, atau fungsi area penting lainnya.
  4. Pengalaman depersonalisasi tidak terjadi secara khusus sepanjang gangguan mental lain, seperti skhizofrenia, gangguan panik, gangguan stress akut, atau gangguan disosiatif lain, dan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya penyalahgunaan obat-obatan) atau kondisi medis umum (misalnya epilepsi lobus temporal).

Depersonalisasi dapat terjadi ketika mengalami peristiwa traumatis. Mungkin mbak Nindia, dapat meruntut lebih detail lagi terkait awal mula mengalami gejala yang dirasakan, apakah mengalami hal tersebut diatas atau tidak. Dapat di konsultasikan lebih lanjut, apakah mengalami depersonalisasi atau hal yang lainnya. Dan memenuhi ketentuan tersebut diatas. Selain itu hal hal yang sebaiknya di lakukan adalah:

  1. Berusaha fokus terkait dengan apa yang dilakukan
  2. Tetap berusaha berinteraksi dengan orang lain
  3. Relaksasi, karena depersonalisasi muncul pada hakekatnya karena rasa kecemasan yang dipendam
  4. Belajar untuk menghilangkan pikiran pikiran negative yang muncul
  5. Lakukan aktivitas positif
  6. Olahraga, karena memicu keluarnya hormone antri stress
  7. Tidur yang cukup, tidur juga merupakan salah satu bentuk relaksasi
  8. Jangan mengkonsumsi kafein karena menghambat tidur
  9. Hubungi Psikolog atau terapis, untuk segera berkonsultasi, melatih berfikir positif, mempelajari dinamika mengapa mbak Nindia bias seperti ini, dan terus mengikuti terapi sesuai dengan prosedur.
  10. Konsultasi ahli lain jika diperlukan

Semoga penjelasan ini dapat memberikan gambaran lebih baik lagi, terkaoit kondisi mbk Nindia. Trimakasih
Wasssalamu’alaikum wr. wb

Konsultasi ini dijawab oleh Rr. Dwi Astuti, S.Psi, M.Psi