Memahami Kearifan Lokal Suku Baduy

UMK – Sebanyak 38 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus pada hari Rabu, 27 – 28 Mei 2015 terjun langsung berinteraksi dengan masyarakat suku Baduy di Provinsi ujung barat Jawa, Banten.

Masyarakat Baduy berada di Desa Kanekes, Kecamatan  Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Hingga saat ini masyarakat Baduy masih terikat pada  pikukuh (aturan adat) yang diturunkan dari generasi ke  generasi. Salah satu pikukuh itu berbunyi  lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambungan, yang berarti panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak  boleh sambung. Makna dari pikukuh itu antara lain tidak  mengubah sesuatu atau menerima apa yang sudah ada  tanpa menambahi atau mengurangi dari yang ada itu  (Permana, 2009:92). Insan Baduy yang melanggar pikukuh akan memperoleh ganjaran adat dari puun (pimpinan adat tertinggi).

Di terminal Cibolenger, mahasiswa harus berjalan sejauh 3 Km untuk menuju kampung Baduy luar, di Baduy Luar ada 3 desa yaitu desa pertama bernama Cicakal, desa kedua bernama Cipaler dan desa ketiga bernama Lebakbungur. Kemudian, sesampai di Baduy Luar, kampung Gajeboh dan beristirahat di sana. Keesokan harinya kami  melanjutkan perjalanannya sejauh 12 km dari baduy luar menuju baduy dalam dengan jalan kaki.

 

Di Baduy dalam, ada tiga desa yang bernama Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik. Di perjalanan sebelum kita sampai di baduy dalam, Cibeo, kami melewati jembatan yang bernama jembatan Tamayang yaitu merupakan jembatan pembatas antara baduy luar dan dalam. Setelah sampai di Baduy dalam, tidak diperkenankan membawa kamera dan peralatan mandi, ke semua desa yang ada di Baduy belum ada listrik.

Suku Baduy mempunyai keistimewaan tersendiri, khususnya Baduy dalam sampai saat ini jika berpergian selalu berjalan kaki, tidak boleh menggunakan kendaraaan, pakaian tidak terjahit, memiliki lumbung padi sebagai tempat penyimpan padi serta seperti orang Baduy lainnya harus mempunyai istri satu seumur hidup. Hal itu senada dengan arti bahwa semua rumah di suku Baduy cuma ada satu pintu.  

Seperti yang dikemukakan oleh  Ayah Karmain, “Seperti halnya agama lain, kami juga mempercayai Tuhan itu satu, dalam beribadah ada dua cara untuk beribadah yaitu yang pertama adalah ibadah khusus yaitu ibadah yang dilakukan sehari-hari seperti berkebun, berjalan kaki dan  lain sebagainya kemudian yang kedua adalah ibadah umum atau biasa disebut dengan Kawalu yaitu berpuasa selama 3 bulan di laksanakan pada tanggal 18-19 menurut penanggalan adat”.

Dalam bidang pendidikan, suku Baduy tidak bersekolah akan tetapi mereka bisa menulis dan membaca. “Jika kita mau bersungguh-sungguh maka tanpa bersekolah pun kita bisa membaca dan menulis, belajar bisa dari manapun seperti yang biasa kami lakukan, kami belajar berbahasa Indonesia dari pengunjung, belajar menulis dan membaca dari bungkus makanan yang dibawa pedagang luar dan ketika kami kesulitan mempelajarinyapun kami tidak pernah malu untuk bertanya dengan pengunjung bagaimana cara menulis dan membaca,” Ungkap Ayah Karmain selaku Wakil Ketua Adat Baduy dalam dari Desa Cibeo.

 

Kesederhanaan dan keramahan masyarakat Baduy dalam di Desa Cibeo yang dihuni oleh 90 kepala keluarga ini memberikan pelajaran tersendiri bagi mahasiswa Psikologi. Seperti halnya Elva salah satu mahasiswa Psikologi UMK, ia mengaku sangat tenang melihat kehidupan suku Baduy yang mengutamakan kerjasama dalam hal apapun serta ketenangan mereka dalam menjalani apapun. “Saya berharap setelah belajar budaya, dan sudah berinteraksi dengan suku Baduy, teman-teman yang lain bisa mengambil manfaat dari orang Baduy serta mampu menghargai orang lain dan menghormatinya,” ungkapnya (Khilyatussa’adah-Portal Web UMK).